Poor Indonesian Public Toilet! Sigh

Hay hay, it’s quite a long time I don’t post such a crazy story like this. Yay! The mellow-drama days has passed, and my mood is back lately, I’m back to my own self *bouncing*.

Hehehe, sebenernya… jadi gini, aku habis makan siang sama papa-mamaku di salah satu mall di Kota Jogja (halah mau bilang Amplaz aja), karena perut penuh dan rasanya kupyuk-kupyuk, maka aku pun segera cari toilet. Yup, ketemu deh toilet di pojokan. Oke, masuk ke dalam toilet, nggak gitu banyak yang ngantri. Prosedur standar-ku buat ngecek toilet vacant atau occupied adalah dengan mendorong pintu toilet pake ujung jari. Satu, dua, tiga… tarah… aku melihat penampakan!!! Sial!! Kenapa pintunya nggak kekunci? Padahal sign di pintunya itu merah lho (sesuai standar internasional, merah artinya occupied dan ijo atau biru artinya vacant). Hm, ada yang salah nih! Untung aja si mbak-mbak atau ibu-ibu di dalam toilet itu belum sempat lihat wajahku, jadi pas dia keluar cuma bisa curiga sama semua orang di situ, “Siapa gerangan tadi yang mbuka pintunya ya?” gitu paling pikirnya. Hihihi…

Oke, sekilas aku jadi kayak orang nakal ya, buka-buka toilet orang. Tapi itu kan bukan salahku (sok innocent). Aku aja pernah jadi korbannya. Pernah terjadi di toilet di salah satu fakultas paling oye se-UGM, waktu itu aku ngerasanya udah ngunci pintu toilet. Dan waktu udah enak-enak ndodog, tau-tau, pintunya dibuka orang, bapak-bapak cleaning service pula. Untungnya posisinya nggak memungkinkan dia untuk melihat penampakanku, tapi aku jadi buru-buru nutup dan megangin pintu!!! HAAAH!! Dan itu nggak terjadi cuma sekali tok, 2 kali!! Di toilet yang sama. Aku nggak tau, apakah ini mitos toilet nomor 3 yang terkenal itu? Eh, tapi itu kan cerita hantu-hantuan, lah ini? kayanya lebih horror dari itu deh. Habis itu, tiap masuk toilet manapun, aku selalu mastikan kuncinya bener-bener valid apa nggak. Aku puter-puter knopnya, aku tarik-dorong daun pintunya. Kalo dah oke, baru deh aku menunaikan tugas mulia.

Orang-orang kebanyakan menilai suatu bangunan dari halaman depan atau ruang tamunya aja. Tapi buatku, hal pertama yang aku nilai dari keseluruhan bangunan adalah toiletnya! Mau itu rumah orang, kantor, hotel, restoran, mall, sampai fasilitas umum seperti stasiun atau bandara, pasti kulihat toiletnya. Sialnya, kultur orang kita yang menempatkannya sebagai “wingking” atau bagian belakang, membuatnya juga menempati urutan terbelakang dalam urusan perawatan. Banyak tuh, toko atau restoran atau bahkan hotel bagus-bagus, ternyata toiletnya… duh, melas banget. Udah jorok, beberapa fiturnya nggak berfungsi lagi, yang flush-nya macet, jet washernya bocor bahkan mati, tempat tisu nggak ada tisunya, dan mungkin saking nggak terawatnya, sampe-sampe pintunya masih bisa kebuka walaupun (rasanya) udah dikunci)! Sigh. Kalo gini, buat apa ada lembar checklist yang nempel di balik pintu toilet itu, wahai petugas?

Selain itu, mungkin juga bentuk desain toilet yang ada di tempat-tempat umum saat ini masih belum sesuai dengan style orang Indonesia dalam menggunakan toilet. Bagi yang sudah terbiasa pake toilet duduk dan jet washer, mungkin nggak masalah, semua berjalan sesuai maksud dan tujuaannya, yaitu toilet tetap kering dan lebih higienis. Tapi secara kultur, orang Indonesia lebih terbiasa dengan bentuk toilet jongkok dan pake bak air plus gayung. Jadi begitu memakai toilet duduk yang ceboknya pake jet washer, bweeehhh… langsung banjir bandang tuh bilik toilet!!! Airnya kemana-mana, lebih parah lagi, urine-nya juga kemana-mana! Hiiy…

Aku nggak tau sebenernya penyelesaian masalah ini harus gimana. Yang harus dibenerin itu kultur kita atau desain toiletnya? Hehehe… tapi menurutku, untuk menengahi semuanya, perawatan toilet adalah yang terpenting! Nggak cuma dipasrahin sama petugas aja, tapi bagi kalian-kalian yang beradab dan tau cara menggunakan toilet dengan baik, please please please… pergunakanlah dengan cara yang seharusnya deh. Buat kenyamanan bersama pula. Buat pengelola tempat-tempat umum, mbok ya… petunjuk cara penggunaan toilet itu dicetak besar-besar aja, jangan nyempil dan bersifat ambigu, seperti yang pernah kutemui ini “Jika merasa jijik anda boleh jongkok diatas toilet” whatthe!!! Ini sih nggak usah disuruh juga orang bakal melakukan!!!

Oke-oke, sudah dulu ya nggerundel tentang toiletnya… lagian dulu juga aku pernah ngamuk-ngamuk soal ini, baca ini aja.

じゃあ、また ねえ、もんな!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s