What are You Gonna Be, Planner?

Hay, it’s me.

Nggak bosan kan kalian membaca tulisanku?  Hahaha… yeah, I promised myself not to make those worthless love theories anymore. Walaupun aku sendiri nggak yakin bisa mengendalikan pikiranku untuk berhenti menuliskan apa-apa yang kupikirkan tentang itu. Ya, cinta. Sudahlah, back to reality, apa yang sedang kulakukan ini setengahnya adalah hasil kegilaanku sendiri. Apa sih?

Meluluskan diri dari UGM di bulan Mei.

Oke, that’s my utopian plan.

I have many more utopian dreams inside my head, and I already know it will be worthless if I don’t put any efforts to reach them.

One day, I walked on my thesis object location, Selokan Mataram, alone by myself. I didn’t observe anything there. I just walk, and think. What will I do for it? Not just for the canal itself or people around it, but also for the world. What can I do?

Belajar perencanaan wilayah selama hampir 5 tahun lalu apa yang mau kulakukan? Menuruti ambisi pribadi untuk menjadi traveler? Hanya bawa otak kosongan aja? Aku cuma ngabis-ngabisin avtur buat terbang kemana-mana, tapi nggak ngapa-ngapain, oh, apa kata dunia?

Aku nggak bercita-cita untuk jadi planner yang hanya kerja kantoran atau passively sibuk menunggu bukaan lowongan CPNS. Banyak yang bisa kujadikan bekal untukku menuntaskan ambisi seraya memelihara kesehatan dunia ini. Terutama banyak hal yang aku ingat dan aku pelajari dari kerja praktekku di Desa Geluntung, Tabanan, Bali. Mungkin sekilas nampaknya pekerjaanku itu cuma ada bersenang-senang dan bermain bersama anak-anak aja, atau hanya membuat peta saja. Kerjaan planner nggak sesempit itu. Ilmu planning itu luas, saking luasnya sampai aku disuguhi dengan berbagai macam pilihan spesialisasi yang bisa didalami lagi. Kita bisa survive dimana saja!

Hmm, kesannya kok kayak promosi prodi ya? Hehehe…

Nggak nggak. Aku sedang memikirkan diriku sendiri kok.

Beberapa hari yang lalu aku main-main ke Amplaz, dah lama juga nggak ke pusat keramaian kayak gitu, janjian sama papa juga sih. Beliau sudah nunggu di Gramedia, maka kami (aku dan adikku pun menuju kesana). Aku baru jalan sampai di depan Indo Musik waktu adikku bilang, “Sik sik (sebenta sebentar) cik, itu ada anak-anak Greenpeace nggak?” dan dengan mata rabun parah gini, aku memaksakan akomodasi mataku untuk melihat sekitar 30 meter di seberang sana. Waow, ada, beberapa pemuda berbaju hijau stabilo itu. Kami pun mengatur strategi untuk menerobos masuk ke Gramedia dengan aman, “Yo, pura-pura nggak tau aja lah, pura-pura nggak cinta lingkungan,” hahaha… kalo ketahuan aku ngomong kaya gini, pasti Bli Agung (coordinator kerja praktekku) nggak setuju banget deh.

Sharing with Agus Wes, Greenpeace activist, member of Rainbow Warrior

Bukannya aku nggak cinta lingkungan beneran ya… sumpah. Dan aku juga banyak bertemu dan sharing dengan aktivis-aktivis lingkungan selama kerja praktek. Dan aku sadar kalo masalah itu makin menumpuk saja seiring juga dengan masalah-masalah kemanusiaan yang terjadi. Terus mau gimana? Demo ke pemerintah? Jelas nggak akan menyelesaikan masalah! Yang ada juga malah nambah sampah dimana-mana, bekas demo. Aksi mogok makan, minum, bicara, topo pendem? Halah, kaya orang kurang kerjaan aja. Masih banyak kok yang bisa dilakukan.

Dan aku sedang memikirkan apa yang bisa kulakukan. Jujur, aku nggak berani ngomong tanpa ilmu dan di luar kapasitasku, jadi aku nggak bakalan berani demo. Dan kondisi kesehatanku yang sering nggak bisa diajak kompromi sama otak ini jelas nggak mungkin mengijinkan aku buat mogok makan dan minum, buat mogok bicara ah…selama masih bisa update status di hp sih itu sama aja bohong, apalagi topo pendem duh ada waktunya kok buat itu.

Aku melihat kebanyakan orang yang bener-bener memelihara lingkungan itu nggak pernah banyak ngomong besar kayak aku gini. Mereka melakukan hal-hal dari yang paling dekat dan sederhana. Sampai aku terheran-heran, Bli Agung itu dari bertahun-tahun bikin proyek ini-itu di desanya, adaaaaa aja. Mulai dari ngecat rumahnya pakai bahan alami, bikin pemanas air pakai sinar matari (bener-bener air yang dijemur), radio komunitas dengan tenaga surya, motor matic tenaga surya, dan lain-lain eksperimennya (yang kebanyakan sih berbasis solar cell juga). Itu baru contoh ramah lingkungannya aja.

Modified electric motorcycle, suryamukti e+bike

Making a simple distance measurement tool

Briefing before the trekking started

Urusan community development, segala macam kegiatan pernah diselenggarakan. Dari kumpul bocah, gathering, kursus/pelatihan computer dan bahasa asing, sampai pertunjukan seni. Semuanya untuk memajukan masyarakat sekitarnya.

Bengong aku. Nggak tau gimana harus mingkem lagi. Beliau memang hebat… the real architecture and more.. seniman, environmentalist, advocator, apa lagi? Mengajak masyarakat untuk berkembang bersama, melestarikan alam dengan budaya masyarakatnya.

Being more adventurous and sociable; walking around the fields, woods and village with kids

Playing a mud war with village kids in the ricefield, could our children experience this too in the future??

Suatu hari mamaku bilang, “Coba kamu kembangkan wilayah sini mbak,” dan dengan pesimis dan less enthusiasm aku menjawab, “Wah, sulit,” why it so difficult for me? Aku nge-judge duluan bahwa masyarakat sini kurang bisa diajak berkembang. Mendingan aku hijrah ke luar kota atau maalh ke luar negri sekalian deh. Hey!!! Wake up, tugas sebagai planner adalah membuat mereka bersemangat mbangun desa (seperti judul serial di TVRI yang terkenal itu). Gimana mereka mau antusias mbangun desa kalo akunya aja males-malesan gini.

Banyak yang bisa dikembangkan, banyak juga yang harus dilestarikan; cagar budaya, alam. Semua akan jadi tanggung jawab kita. Masa kita membangun negri orang lain sementara orang luar membangun negri kita??

Ambisi dan nasionalisme dalam diriku mulai berperang nih.

Awalnya aku berniat belajar planning adalah membuat kawasan wisata, but since I got only C+ on Tourism Planning subject, cita-cita itu pun kukandaskan!! Entah kenapa, walaupun aku bukanlah seorang environmentalist, bukan orang yang cinta-cinta banget sama lingkungan (masih tidur pake AC dan belum melaksanakan 3R secara maksimal), tapi aku ingin bisa menjadi environmental planner. Aku bisa membangun kawasan yang profit oriented, tapi nggak lupa sama lingkungan, kesesuaian lahannya. Dan aku tau, di depan sana, stake holders nggak akan seringan itu untuk kuhadapi. Aku harus lebih banyak belajar. Nggak hanya teori, technically, tapi juga soft skill, berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan. Dalam agamaku juga sudah diajarkan untuk berhubungan baik selain dengan Tuhan juga dengan sesama manusia dan lingkungan.

Pertanyaanku, apakah aku harus menjadi environmentalist untuk menjadi seorang environmental planner?

Dan hal yang kupelajari, “We cannot see the future but we can make plans for the future,”

This post is dedicated to :

Bli Agung Putradhyana,

my housemates NGP Diah Padmarani & Danar Wiyoso,

my friends in Geluntung village,

my bestfriends Abdul Jabar & Kartini,

and also for MY FUTURE

“Always respect nature and culture for a better future…”

FOR THE FUTURE

将来 の ために

FOR LIFE!!!

生活 の ため に!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s